
RILIS — Perkembangan Islam di Pucangan tidak hanya dapat dibaca melalui ceramah, pengajian, atau aktivitas keagamaan. Kampus, masjid, lembaga pendidikan, hingga peran pemimpin desa ikut membentuk bagaimana nilai-nilai Islam tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Diskusi Konsorsium Dosen Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta, Rabu (19/8/2026). Diskusi bertema “Politik Budaya Material di Jawa” tersebut menghadirkan M. Endy Saputro, Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam diskusi, para dosen PPI melakukan pemetaan terhadap jejak Islamisasi di Pucangan. UIN Raden Mas Said Surakarta dibaca sebagai salah satu pusat keilmuan yang memiliki hubungan dengan perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat di wilayah sekitarnya.
Dari kampus, proses tersebut bergerak melalui berbagai jalur: pendidikan Islam, pengajian, dakwah dan tabligh, keteladanan tokoh, kegiatan keagamaan, serta keberadaan berbagai institusi Islam. Islamisasi, dengan demikian, tidak berlangsung dalam satu arah dan tidak hanya berpusat pada aktivitas ritual.
Pemetaan tersebut juga memperlihatkan posisi masjid sebagai simpul penting kehidupan sosial-keagamaan masyarakat. Masjid Istiqamah di wilayah utara dan Masjid Darussalam di wilayah selatan, misalnya, menjadi ruang tempat ibadah, dakwah, pengajian, sekaligus penguatan kebersamaan warga.

Relasi antara kampus, masjid, dan masyarakat inilah yang kemudian dibaca melalui perspektif budaya material. Bangunan, ruang, lembaga, serta berbagai praktik yang tumbuh di sekitarnya bukan sekadar latar kehidupan keagamaan, melainkan turut menentukan bagaimana nilai, otoritas, dan identitas Islam dibentuk dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi juga mencatat peran kepemimpinan lokal. Salah satu tokoh yang dibahas adalah H. Syaibani, Kepala Desa Pucangan periode 1980–2006, yang dinilai memiliki peran dalam membangun fondasi kehidupan keagamaan, memperkuat persatuan masyarakat, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial warga.
Dari pemetaan tersebut terlihat bahwa Islamisasi Pucangan tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan keyakinan atau peningkatan kegiatan keagamaan. Ia berlangsung melalui jaringan yang mempertemukan pusat keilmuan, masjid, pendidikan, kepemimpinan lokal, dan kehidupan sosial masyarakat.
Salah satu rumusan yang mengemuka dalam diskusi menggambarkan proses tersebut: “Dari ilmu tumbuh iman, dari iman lahir amal, dari amal terwujud peradaban.”
Diskusi Konsorsium Dosen PPI merupakan ruang pengembangan keilmuan dan pertukaran gagasan antar-dosen. Melalui kajian seperti politik budaya material, Prodi PPI berupaya membaca politik tidak hanya melalui negara, partai, atau pemilu, tetapi juga melalui ruang, benda, institusi, budaya, dan praktik keseharian yang membentuk kehidupan masyarakat.***
Diskusi Dosen PPI Petakan Jejak Islamisasi Pucangan dari Kampus hingga Masjid
4 hari yang lalu - Umum