
RILIS PERS — Pusat Pengkajian Pesantren dan Masyarakat Islam Nusantara Islam UIN Raden Mas Said Surakarta gelar Sarasehan Perayaan Hari Santri 2026 dengan tema “Kuliner di Pesantren: Apakah Gizi Berpengaruh pada Berkah?”.
Kegiatan di Aula Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) lantai 2, Senin (5/10/2026) ini menjadi bagian dari kick off rangkaian Hari Santri 2026 di lingkungan UIN Raden Mas Said Surakarta. Momentum tersebut sekaligus ditandai dengan peluncuran Said Literacy Festival, Pusat Pengkajian Pesantren dan Masyarakat Islam Nusantara, serta Pusat Studi Politik Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat Islam.
Hadir dalam kegiatan yang juga merupakan kerja sama dengan UPT Perpustakaan ini Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Prof. Dr. Toto Suharto, Dekan FUD Dr. H. Kholilurrohman, Kepala UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta, Direktur Pusat Pengkajian Pesantren dan Masyarakat Islam Nusantara M. Endy Saputro, M.S.I., serta Direktur Pusat Studi Politik Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat Islam Syafawi Ahmad Qadzafi, S.S., M.A.
Sarasehan menghadirkan Dr. Khasan Ubaidillah, S.Pd.I., M.Pd.I.; Dr. Muhammad Himmatur Riza, M.H.; Ikhda Khullatil Mardliyah, S.Farm., Apt.; dan Lailia Muyasaroh, M.A. sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Nur Fatimah, M.Sos.
Rektor: Pusat Studi Harus Menghasilkan Pengetahuan yang Terukur
Dalam sambutannya, Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta menekankan pentingnya membangun jaringan dan kolaborasi dalam pengembangan pusat studi. Menurutnya, keberadaan pusat studi perlu didukung jejaring di tingkat lokal, nasional, maupun internasional agar dapat berkembang menjadi ruang riset dan kerja sama yang produktif.
Ia mendorong agar pusat-pusat studi yang diluncurkan tidak berhenti pada aspek kelembagaan, tetapi mampu menghasilkan kajian, riset, survei, dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Dari lokal ke global, dari global ke lokal,” menjadi salah satu penekanan Rektor dalam sambutannya.
Menurutnya, pengembangan pusat studi juga harus berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi dan digitalisasi. Hasil kajian perlu dikomunikasikan secara lebih luas sehingga keberadaan pusat studi dapat dikenal oleh masyarakat, bukan hanya oleh kalangan akademik.
Dalam konteks Pusat Studi Politik Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat Islam, Rektor menekankan pentingnya produksi data dan survei mengenai berbagai persoalan politik lokal serta pemberdayaan masyarakat. Survei tersebut, menurutnya, harus memiliki metodologi yang jelas, mulai dari teori yang digunakan, jumlah sampel, hingga proses pengumpulan dan pengolahan data.
“Surveinya berapa? Ya, harus benar,” tegasnya dalam sambutan.
Rektor juga mendorong agar hasil penelitian dan survei dapat dipublikasikan melalui berbagai kanal digital dan media. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui bahwa kajian akademik yang dilakukan oleh perguruan tinggi memiliki basis data dan dapat digunakan untuk membaca persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya membangun identitas kelembagaan melalui karya yang konsisten. Pusat studi, menurutnya, perlu memiliki fokus kajian yang jelas sehingga ketika masyarakat mendengar nama sebuah pusat studi, mereka langsung mengenali bidang yang menjadi perhatian lembaga tersebut.
Menghubungkan Pesantren, Literasi, dan Masyarakat
Peluncuran Pusat Pengkajian Pesantren dan Masyarakat Islam Nusantara dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kajian mengenai pesantren dan masyarakat Islam Nusantara.
Pusat tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan penelitian, memperluas jejaring, serta memperkuat kajian mengenai Islam Nusantara. Dalam sambutannya, Rektor juga menyinggung pentingnya mengangkat narasi tentang Islam Nusantara dan Islam yang santun melalui kegiatan akademik dan riset.
Sementara itu, Said Literacy Festival menjadi wadah untuk memperkuat tradisi literasi di lingkungan kampus. Literasi tidak hanya dipahami sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai bagian dari proses produksi dan penyebaran pengetahuan kepada masyarakat.
Ketiga agenda ini diharapkan dapat saling terhubung. Perpustakaan, pusat studi, sivitas akademika, dan masyarakat dapat membangun ekosistem pengetahuan yang tidak berhenti di ruang kampus.

Kuliner Pesantren sebagai Ruang Diskusi
Selain peluncuran tiga agenda kelembagaan, sarasehan juga mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan santri, yakni “Kuliner di Pesantren: Apakah Gizi Berpengaruh pada Berkah?”
Tema tersebut membuka pembahasan mengenai makanan di lingkungan pesantren dari berbagai perspektif, mulai dari kesehatan dan gizi hingga dimensi sosial, budaya, dan keagamaan.
Kuliner pesantren bukan sekadar persoalan makanan sehari-hari. Ia juga menjadi bagian dari tradisi, pola hidup, dan pengalaman keseharian santri. Karena itu, pembahasan mengenai gizi dan keberkahan dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana praktik kehidupan pesantren dapat dikaji secara lebih luas melalui pendekatan lintas disiplin.
Melalui kegiatan ini, UIN Raden Mas Said Surakarta menegaskan komitmennya untuk menjadikan Hari Santri bukan sekadar momentum seremonial, tetapi juga ruang untuk memperkuat literasi, penelitian, pengkajian pesantren, serta kontribusi perguruan tinggi terhadap persoalan masyarakat.
Peluncuran Said Literacy Festival, Pusat Pengkajian Pesantren dan Masyarakat Islam Nusantara, serta Pusat Studi Politik Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat Islam diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas jejaring pengetahuan dari lokal ke global dan dari global ke lokal. ***
Hari Santri 2026, Pusat Pengkajian Pesantren UIN Surakarta Adakan Sarasehan Kuliner
3 hari yang lalu - Umum
PPI Gelar Penguatan Mutu Berbasis Program Studi di Ponpes Kalimosodo Walisongo Sragen
3 pekan yang lalu - Umum